Semakin tingginya angka perceraian seperti yang dilansir di artikel sebelumnya, telah menyadarkan kita bahwa kita bertanggungjawab menyiapkan anak-anak kita untuk menjadi suami istri yang baik bagi pasangannya.
Mereka perlu memahami apa konsekuensi menikah dan apa saja perannya ketika sudah menikah.
“Ah nanti saja, kalau sudah waktunya tiba, masih kecil begini bagaimana mempersiapkannya?”, pikir kita.
Ternyata, mempersiapkan anak kita untuk menjadi suami dan istri dimulai sejak kecil. Sejak kapan? Sejak ia memiliki kemampuan belajar. Bahkan dengan bermain boneka pun, kita bisa mengajarkan caranya memandikan dan mengganti baju bayi.
Anak kita belajar apa saja dan dari siapa saja. Dimulai dari melihat sekelilingnya, kemudian meniru. Apa yang dilihat itu, jika ia ‘pelajari’ berulang-ulang akan terrekam dalam memori jangka panjangnya. Kemudian memori itu akan menjadi “panduan” bagaimana ia bersikap.









